Selasa, 03 Mei 2016

pulkam

Rindu Ibu
Hari ini adalah hari tepat jadwal perpulangan ma’had, Jum’at, 8 April 2016. Di mana hari itu merupakan hari yang dinanti-nanti banyak santri untuk segera berbondong-bondong pulang ke rumah. Entah sekedar hanya untuk mengobati rasa rindu kepada sanak family atau ada keperluan lain. Sebagai santri aktif ma’had, memang suatu keharusan agar selalu mematuhi segala macam aturan yang ada, termasuk perpulangan yang dijadwal dalam dua minggu sekali. Tidak begitu ketat menurutku jika dibanding dengan di pondokku waktu Madrasah Aliyah dulu.
Bagiku semester ini sangat jauh berbeda dengan semester sebelumnya. Sebab semester lalu aku bisa dibilang sangat jarang pulang, sedangkan dalam semester ini aku tidak pernah absen setiap kali perpulangan. Mungkin karena aku bosan dengan suasana ma’had yang begini-begini saja, terlebih lagi kalau waktu liburan, seakan menjadi pengangguran sukses yang gak jelas mau ngapain.
Kereta api menjadi sarana utama bagiku untuk sampai di kota kelahiranku, Blitar. Memang tidak begitu jauh sih, tapi ekonomisnya harga menjadi pilihan yang tepat untuk mahasiswa yang pas-pasan sepertiku. Selain itu, keamanan dan kenyamanan dalam kereta bernilai lebih jika dibanding dengan mengendarai bus. Belum lagi kalau pusing dan mabuk kendaraan karena ugal-ugalannya sopir bus. Jadi naik kereta lebih aku prioritaskan, kecuali jika ada suatu hal mendesak yang menuntutku untuk segera sampai di rumah.
Sebuah pemandangan berbeda aku temukan saat perjalanan pulangku kali ini, tepatnya di gerbong kereta penataran nomor tiga yang aku tumpangi. Ada seorang penumpang yang hebohnya luar biasa sampai membuatku serta penumpang lainnya merasa aneh dan cengar-cengir melihatnya. Seorang nenek perempuan berpenampilan barbie yang sangat genit, bahkan ngalahin gayanya anak muda. Semua orang heran melihat tingkah lakunya, tapi juga tak kuasa menahan tawa saat mendengar comelannya. Bahkan ada sebagian orang yang justru menanggapinya. Kalau menurutku nenek ini bisa dibilang mengalami gangguan jiwa, entah mungkin karena pengalaman masa lalunya yang kurang baik atau lingkungan hidup yang mempengaruhi psikisnya. Hal itu bisa dilihat dari omongannya yang ngawur dan enggak punya rasa malu sama sekali. Hingga akhirnya dia bilang tidak punya uang sepeserpun dan langsung meminta-minta pada semua penumpang yang ada dalam satu gerbong tersebut.
Selesai meminta-minta, nenek itu kembali menduduki tempatnya. Lagi-lagi dia bersikap tidak wajar seperti halnya orang normal. Dia melepas kerudung yang dipakainya dan mengalungkannya di leher seperti halnya memakai slayer. Kemudian dia memakai dobelan rok berwarna hijau di tempat duduknya itu. Sampai-sampai dua orang lelaki yang duduk di dekatnya merasa ilfeel dan berbalik arah membelakanginya. Semua orang tak lagi menanggapi dan membiarkan tingkah lakunya. Tidak lama kemudian, ada seorang perempuan datang menghampiri tempat duduk nenek tersebut. Dan ternyata kursi yang di duduki nenek itu bukanlah tempat duduk asli miliknya. Hingga akhirnya nenek itu pun pergi ke gerbong depan dan suasana kembali nyaman.
Tidak selang berapa lama, kereta sampai di stasiun yang aku tuju (Talun). Suasana nyaman mulai kurasa saat turun dari kereta, karena aku disambut oleh pemandangan indah yang tak pernah jenuh aku melihatnya. Hamparan tanaman hijau terbentang luas dan melambai-lambai seiring datangnya angin, seakan riang menyambut kedatanganku. Hal ini yang selalu membuat aku  rindu pada kota kelahiranku dan tak ingin meninggalkannya terlalu lama.
Jarak dari stasiun ke rumahku tidak begitu dekat. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk tiba di kampung halaman. Tidak lama kemudian, ibuku datang menjemput mengendarai sepeda motor tua yang dibeli bapakku sekitar tujuh tahun silam. Rasa rinduku kini terobati setelah aku melihatnya tersenyum dan keadaannya baik-baik saja. Setelah itu, ganti aku yang menyetir untuk perjalanan pulang karena aku merasa takut dibonceng ibu yang masih kaku dalam mengendarai motor. Maklum, belajar naik motor di waktu tua emang gak bisa semaksimal anak muda.
Sesampainya di rumah, hati menjadi lebih senang karena disambut pula oleh seorang lelaki separuh abad berambut hitam putih yang tak lain adalah bapakku. Meskipun adikku belum terlihat karena masih sekolah. Bukan mereka saja yang aku rindukan, tapi juga masakan ibu yang khas dan enak. Hingga aku tak segan mengambil nasi dan lauk yang tersedia untuk segera mengisi perut. Setelah itu, aku beristirahat melepas lelah dengan berbaring di atas ranjang kecilku. Mengisi liburan bersama keluarga memang selalu menyenangkan bagiku dibanding pergi ke tempat wisata dengan teman. Sebab, di situlah aku mendapatkan tulusnya kasih sayang dari orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku.


SEKIAN

organisasi

Organisasi, Mengapa Tidak?
Organisasi adalah kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Hal tersebut merupakan salah satu tempat pengembangan bakat dan minat seseorang dalam menggali potensi diri menjadi seorang leader. Selain itu, pengembangan kinerja antar anggota juga sangat dibutuhkan untuk mencapai visi dan misi yang disepakati bersama. Jadi kepentingannya lebih diprioritaskan dari pada kepentingan pribadi.
            Di sebuah kampus, organisasi menjadi salah satu trend yang diminati oleh mahasiswa di samping belajar di bangku kuliah. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, peminat organisasi kini semakin menipis. Dari berbagai macam organisasi yang ada, tidak banyak anggota yang benar-benar serius menjalaninya. Hal itu terjadi karena kurang adanya kesadaran dan komitmen dari dalam diri. Selain itu banyak juga penyebab lain dari luar yang mempengaruhi, seperti halnya ikut-ikutan teman, penyakit malas, paksaan dan lain sebagainya.
            Sejatinya, organisasi mempunyai beberapa manfaat yang tidak dapat diambil dari kegiatan lain. Dengan organisasi, seseorang akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru, lebih bisa menghargai orang lain serta memiliki kepedulian antar sesama. Sebab, dalam organisasi membutuhkan kerja sama antar anggota untuk mencapai suatu tujuan. Tanpa kebersamaan, maka tujuan akan sulit dicapai, terlebih kalau banyak yang mengutamakan kepentingan pribadi. Organisasi juga merupakan sarana awal untuk terjun langsung ke dalam lingkup masyarakat. Karena dalam organisasi seseorang akan belajar memahami karakter orang lain yang berbeda-beda, begitu pula nanti kalau hidup bermasyarakat. Selain itu, di tahun 2016 ini mahasiswa juga dituntut aktif dalam berbagai macam kegiatan, karena setelah lulus tidak hanya akan mendapat  ijazah, melainkan juga surat keterangan prestasi yang dapat digunakan sebagai penunjang dalam melamar pekerjaan.
            Aktif dalam organisasi memang sangat baik, akan tetapi tidak harus mengesampingkan perkuliahan ataupun tanggung jawab diri sendiri. Dengan begitu seseorang akan mendapat nilai plus karena bisa aktif dalam keduanya. Untuk itu, penting bagi mahasiswa turut aktif dalam sebuah organisasi. Sebab nantinya mereka juga akan terjun langsung dalam masyarakat. Setiap orang mempunyai potensi untuk hal itu, jadi gali potensi sedalam mungkin dari dalam dirimu. Organisasi, mengapa tidak??

SEKIAN

menulis


Menulis, Siapa Takut?
Sebuah kegiatan yang terlihat mudah akan tetapi tidak banyak orang yang gemar melakukannya. Sebab membutuhkan ke-telatenan dan ketekunan yang ekstra dalam melakukan hal tersebut. Kegiatan yang dimaksud tidak lain ialah menulis. Menulis adalah buah hasil pikiran seseorang yang kemudian dipaparkan dalam bentuk rangkaian kata, baik itu di atas kertas maupun yang lainnya. Perlu sebuah ide dan pengetahuan untuk dapat menulis, sehingga tak heran jika untuk mendapatkan dua hal tersebut seseorang juga harus giat membaca. Supaya dia dapat mengasah kemampuannya dan meningkatkan tulisannya menjadi lebih baik. Baik itu menulis karya fiksi maupun non fiksi.
Mahasiswa adalah orang akademis yang bertugas untuk melakukan perubahan ke depannya (agent of change). Hal tersebut bisa dilakukan salah satunya dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam menulis. Akan tetapi realitas yang berkembang tidak lah seperti itu. Minimnya kebiasaan menulis oleh mahasiswa semakin pesat seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih. Teknologi yang mestinya dapat digunakan sebagai sarana untuk menulis, malah dipakai untuk menghasilkan tulisan secara instan, seperti halnya copy-paste dalam pembuatan makalah. Sangat ironis jika hal ini terus menerus terjadi dan tidak segera diperbaiki.
Selain penyalahgunaan teknologi, banyak faktor lain yang mempengaruhi minimnya minat tulis mahasiswa, baik secara internal maupun eksternal. Kurangnya semangat dan keinginan untuk mengeksploitasi kemampuan diri sendiri menjadi hal terpenting dalam menumbuhkan minat tulis. Untuk itu penting kiranya menumbuhkan semangat dan keinginan menulis dari dalam diri, yang kemudian direalisasikan dengan istiqomah menulis pada setiap harinya. Yang terpenting suka menulis dulu, karena ilmunya bisa dipelajari seiring berjalannya waktu.

Tidak sedikit keuntungan yang didapat dari kegiatan ini, terlebih bagi mahasiswa. Di mana saat banyak makalah yang menyerbu, tidak akan merasa kesulitan atau bingung untuk menyelesaikannya. Selain itu, menulis juga salah satu cara untuk menyumbangkan pengetahuan yang dimiliki seseorang agar bermanfaat bagi orang lain. Hal ini merupakan pengubah peradaban manusia untuk lebih maju. Dan tidak jarang juga, sebuah tulisan itu bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. Jadi, eksploitasi kemampuan menulismu dan tak perlu ragu untuk menghasilkan karya tulis. Menulis, siapa takut???

resensi buku

Pendobrak Kehidupan Perempuan


Judul Buku                  :   Dunia Padmini
Penulis                         :   Trie Utami
Penerbit                       :   Pustaka Sastra (Kelompok Penerbit LKiS), Yogyakarta
Cetakan                       :   I, 2010
Jumlah Halaman          :   254
Peresensi                     :   Mutmainatul Mundiroh      

Dunia Padmini, sebuah karya sastra karangan penulis perempuan yang hidupnya diabdikan untuk kesenian, Trie Utami. Karyanya kali ini mengangkat tema tentang kehidupan perempuan yang dinilainya sangat penting untuk diperbaiki. Sebab banyak perempuan di luar sana yang masih saja menjadi korban kekerasan laki-laki dan tidak dapat mengatasi kelemahan yang membelenggu dalam dirinya sendiri. Perempuan banyak dianggap sebagai objek (barang), dipandang sebelah mata, manusia lemah, dan lain sebagainya. Padahal sejatinya perempuan juga mempunyai kualitas diri yang tidak kalah hebatnya dengan laki-laki. Akan tetapi, mereka tidak pernah sadar mengenai hal itu karena banyaknya dogma yang mengikat dirinya. Mereka menerimanya tanpa berfikir lebih, sehingga banyak dari mereka yang tidak dapat menggali potensi diri dan terkungkung dalam keyakinannya terhadap dogma tersebut.
Dalam buku ini, si penulis mengemas berbagai macam permasalahan perempuan Indonesia yang nyata dan ada di sekitar kita. Dia menulis berdasarkan pemikiran dalam dirinya dan pengalaman yang ia alami selama bertahun-tahun. Harapan besar baginya agar setiap perempuan Indonesia sadar dan terbebas dari segala macam kungkungan yang sudah lama menikam. Kemudian mereka dapat menggali potensi diri dengan sebaik mungkin, sehingga dapat merdeka dari segala bentuk ketertindasan.
Padmini merupakan ekspresi dari suara hati perempuan yang memiliki kecerdasan dan kepekaan dalam membaca realitas. Melalui pengembaraan jiwa yang liar, Padmini berhasil mengubah penderitaan menjadi harapan, tekanan menjadi tantangan, dan kelemahan menjadi kekuatan. Akan tetapi dia tidak kehilangan objektivitas dalam mengekspresikan subjektivitas. Artinya, Padmini tidak terjebak dalam sikap egois dan narsis dalam melakukan pembelaan terhadap nasib perempuan yang tertindas. Dia tidak menyalahkan semua pihak dan menutup mata terhadap kenyataan sehingga memutlakkan kebenaran kepada pihak perempuan. Justru ia juga mengungkapkan sisi kelemahan dari perempuan yang berasal dari dirinya sendiri dan memberikan instropeksi terhadap setiap realitas yang terjadi. Kekalahan perempuan bukan semata-mata karena tekanan tradisi yang telah berabad-abad, melainkan juga karena kelemahan perempuan itu sendiri yang tidak mau melawan berbagai belenggu yang menghimpitnya. Sebaliknya, perempuan justru menerima nasib dan menganggap apa yang terjadi pada dirinya adalah bagian dari takdir yang harus diterima. Kemudian dengan segala upaya menikmati penderitaan tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah perjuangan hidup.
Perempuan sebenarnya memiliki hak dan kemampuan untuk melawan semua itu. Dia bisa mempertanyakan atau bahkan menggugat berbagai hal yang ditimpakan kepadanya, norma yang telah mapan, tradisi yang diagamakan atau berbagi belenggu yang mengekang kaum perempuan. Bagi Padmini, hanya satu syarat yang dibutuhkan untuk melakukan semua itu, yaitu keberanian. Tetapi tidak banyak perempuan yang memiliki sifat seperti itu, bahkan bisa dibilang sangat langka. Butuh mental yang kuat untuk bisa berani menghadapi situasi apa pun. Agar perempuan bisa berdiri kokoh ketika banyak rintangan yang menghadang dan tidak mudah menyerah dengan berbagai macam halangan.
Sebagai cermin atas kenyataan hidup, kita akan melihat wajah asli ketika membaca buku ini. Di sini kenyataan tidak dibiarkan berlalu dan hanyut bersama waktu. Kenyataan oleh Padmini dilihat sebagai penggalan-penggalan kisah yang kaya makna dan masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Orang kebanyakan membiarkan penggalan kehidupan itu datang dan pergi begitu saja, tetapi bagi Padmini setiap penggalan kehidupan dia simpan, dia catat kemudian disusun menjadi sebuah potret kehidupan yang utuh. Dari sinilah inspirasi muncul memancarkan hikmah yang bisa diambil oleh siapa saja yang mau membaca. Dengan demikian, buku ini sebenarnya juga mengajarkan kepada pembaca agar memiliki kepekaan jiwa untuk melihat, membaca, dan menangkap makna dari setiap penggal kehidupan yang menjadi kenyataan.
Membaca buku ini kita akan hanyut dalam dialog jiwa jika membaca dengan penuh perasaan, menggunakan kedalaman jiwa dan hati serta memanfaatkan nalar kritis yang dimiliki. Karena buku ini adalah potret tentang realitas kehidupan yang lahir dari gejolak emosi seorang Padmini yakni Trie Utami. Jadi, sangat penting kiranya buku ini untuk dibaca dan dipahami secara lebih mendalam. Terlebih bagi kaum perempuan, yang mana buku ini merupakan pendobrak kehidupan perempuan untuk dapat memerdekakan dirinya dari beraneka macam kungkungan dan kelemahan diri yang ia hadapi.


J SEKIAN J

bazar buku

Bazar Diva Press


Rabu, 16 Maret 2016 ada sedikit pemandangan yang berbeda terlihat di utara gedung UPB IAIN Tulungagung. Beberapa terop berdiri tegak dikerumuni oleh banyak orang saat hari pertama bazar buku itu diadakan di kampus ini. Mungkin semua heran dengan nilai nominal yang digantungkan pada terop, karena bisa dibilang lumayan murah, atau bisa juga penasaran dengan buku apa saja yang dijual di sana. Sehingga banyak mahasiswa yang datang menyerbu, baik itu hanya melihat ataupun untuk membelinya. Bazar buku kali ini diselenggarakan oleh salah satu organisasi kampus yang bekerja sama dengan pihak luar. Organisasi itu adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang bekerja sama dengan salah satu percetakan buku ternama yakni Diva Press.
Sehari sebelum terselenggaranya acara ini aku melihat ada mobil box bertuliskan Diva Press berada di utara gedung radio IAIN Tulungagung, akan tetapi sebelumnya aku tidak tahu jika akan diselenggarakan bazar buku di kampus. Sebab ketika sore itu aku pulang kuliah,  belum ada satu terop pun yang berdiri di selatan gazebo FUAD. Hingga keesokan harinya aku baru tahu bahwa Diva Press menyelenggarakan bazar buku di sini.
            Berbagai macam buku dijual dalam acara tersebut, mulai dari novel, buku islami, mata kuliah, maupun buku-buku motivasi. Akan tetapi novel lebih dominan dari buku-buku lainnya. Jadi tidak heran kalau harga yang dipatok untuk karya non fiksi ini lebih miring dari buku yang lain. Mungkin sangat tepat bagi kamu pecinta novel untuk berburu buku di bazar kali ini. Sebab jarang juga ada bazar yang mematok harga miring dengan berbagai macam karya yang berbeda. Tidak hanya buku dari penerbit saja yang dijual, melainkan penerbit lain seperti halnya teras dan lainnya.
            Seiring bergantinya hari, pengunjung yang datang dalam acara ini semakin menyusut dibanding dengan hari pertama. Aku tidak lagi melihat banyak orang berkerumun di sana. Entah mungkin karena bukunya yang kurang sesuai dengan keinginan pembaca, minimnya minat baca mahasiswa, ataupun kondisi keuangan mahasiswa yang lagi krisis. Menurutku minat baca mahasiswa memang masih sangat rendah, sebab setiap kali ada bazar buku tidak banyak mahasiswa yang berbondong-bondong memanfaatkan kesempatan untuk memburu ilmu. Selain itu bisa dilihat dari situasi perpustakaan yang hanya ramai ketika banyak makalah menyerbu dan mahasiswa berlomba-lomba mencari literasi di sana agar tidak sampai kehabisan stok buku yang dicari karena jumlahnya yang terbatas. Jadi membaca buku hanya ketika ada tugas makalah yang harus dikerjakan bukan dari kesadaran pribadi masing-masing. Hal ini aku ungkapkan dari pengalamnku dengan teman-teman yang tidak jauh berbeda denganku.
            Kamis, 24 Maret 2016 merupakan hari terakhir diselenggarakannya bazar tersebut.  Harapan besar untuk panitia penyelenggara, jangan pernah lelah mendobrak semangat minat baca pada mahasiswa dengan mengadakan bazar buku di lain hari. Dan untuk semua mahasiswa, mari kita tumbuhkan kesadaran dalam diri dan tingkatkan minat baca untuk peradaban yang lebih maju.


                                                                        SEKIAN          

disiplin

Disiplin itu Penting
Dua pekan telah usai kujalani masa kuliah di semester  genap ini. Awal masuk bisa dibilang masih santai karena banyak dosen yang belum masuk kelas. Tetapi di minggu ke dua dan seterusnya jangan harap bisa seperti awal-awal pertama masuk. Sudah tumpukan tugas dan makalah mulai menyerbuku. Perlahan aku mulai menyicilnya agar tidak terjebak dalam SKS (Sistem Kebut Semalam) seperti halnya semester lalu. Iya, kali ini aku harus mulai belajar mengatur waktu dengan sebaik mungkin. Agar tugasku bisa selesai tepat waktu dan hasilnya maksimal. Semester ini tak dapat aku samakan dengan sebelumnya, karena mata kuliah yang diampu tidaklah ringan dan perlu berfikir lebih berat lagi. Selain itu, dosen yang mengajarpun tidak sama dengan semester kemarin, lebih serius dan disiplin lagi tepatnya.
Awalnya sangat menegangkan bagiku ketika harus diajar oleh dosen luar biasa seperti pak Teguh, pak Na’im, ataupun dosen lainnya. Sebab sebelumnya aku telah mendapat suntikan kurang menyenangkan dari teman-temanku yang sudah pernah diajar beliau. Ada yang bilang, “Pak Teguh itu orangnya disiplin banget, kalo telat masuk kelas sesudah diabsen itu sama dengan alfa. Terus makalah itu harus super sistematis. Kalo enggak suruh revisi sampai benar. Selain itu, makalah juga harus sesuai dengan apa yang beliau inginkan.” Kalau pak Na’im, “Setiap pertemuan pasti dikasih tugas, terus suruh masukin ke blog, pokoknya ribet deh.”
Semula aku merasa takut saat beliau pertama masuk, tapi seiring berjalannya waktu aku mulai bisa menikmati. Aku pun merasa bahwa apa yang dibilang temanku itu terlalu berlebihan, karena pada faktanya beliau juga enak saat mengajar dan mengasyikkan. Disiplin sih iya, tapi itu memang pelajaran yang harusnya ditanamkan pada diri seseorang, terlebih lagi bagi mahasiswa yang notabennya akademisi.
Dari situ aku tahu bahwa seseorang tidak dapat mempercayai omongan orang lain tanpa adanya bukti yang nyata, terlebih kalau menyangkut pautkan orang lain, bisa menimbulkan fitnah ataupun kesalahpahaman yang bisa merugikannya. Untuk itu lebih berhati-hati saja buat ke depannya dan tidak masuk ke lubang yang sama lagi. Justru dari pengajaran dosen-dosen hebat itulah aku mendapat semangat untuk lebih maju dan banyak pelajaran yang aku petik, termasuk kedisiplinan. Suatu hal penting yang belum pernah ku terapkan karena aku termasuk orang yang santai dan menganggap remeh suatu hal. Sehingga semester lalu tidak heran kalau aku sering terpontang-panting mengerjakan makalah dadakan dan hasilnya pun masih aca-acakan.
Mengawalinya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, sangat sulit dan membutuhkan usaha yang keras. Terlebih lagi kalau terserang penyakit malas, rasanya seperti pupus harapan untuk mengerjakan hal apapun. Satu kunci yang harus senantiasa diingat, dipaksa. Karena dengan keterpaksaan tersebut akan menjadi terbiasa. Ingat sih selalu, tapi kalau sudah praktik susahnya minta ampun. Padahal setahu aku orang yang disiplin itu hidupnya enak, teratur, dan tidak ribet. Sebab dia bisa mengatur jadwal kesehariannya dengan baik dan serapi mungkin. Tidak hanya pada jadwal, tetapi hal lain juga dapat ditanganinya dengan baik.
Sudah seharusnya kedisiplinan itu ditanamkan sejak dini oleh orang tua, karena saat itu lah karakter dalam diri seseorang mulai dibentuk. Selain itu faktor lingkungan juga memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap perkembangan karakter seseorang. Kalau sudah besar begini sulit rasanya untuk memulai hal seperti itu, apalagi dengan lingkungan yang sekarang ini. Jam karet (keterlambatan) sudah dianggap sebagai hal biasa dan menjadi kebiasaan. Suatu kebiasaan buruk yang mestinya tidak pelu diterapkan, terlebih lagi bagi mahasiswa yang sudah tidak perlu peraturan ketat sebagaimana anak sekolah. Akan tetapi kesadaran dalam tiap individu masih sangat kurang, termasuk juga aku.
Sebenarnya tidak ada suatu hal yang mustahil jika seseorang yakin bisa melakukan dan berusaha mewujudkannya. Akan tetapi, aku bukan tipe orang yang mudah diatur dan terlalu santai, terlebih aku masih ragu untuk bisa melakukannya. Sudah lama aku menjalani hidupku dengan kebiasaan yang begini, meski terkadang juga terselip dibenakku untuk bisa seperti mereka yang hidupnya teratur dan terarah. Apalagi mereka yang mempunyai sebuah impian dan bertekad keras untuk meraihnya. Suatu hal yang wow bagiku ketika melihat mereka berhasil mewujudkannya, sebab itu bukan hal yang mudah. Banyak rintangan menghadang di tengah perjalanan yang harus ditempuh dan mereka sanggup melaluinya. Sebuah pelajaran yang terlihat ringan tetapi sangat berharga dan perlu kiranya untuk diterapkan bagi tiap individu. Karena perubahan adalah dimulai dari sendiri, dari hal yang terkecil. Aku akan memulainya secara perlahan, sebab segala sesuatu itu membutuhkan proses dan aku juga ingin bisa meraih impianku. Jadi, semangat juga buat kalian yang mau melakukan hal itu. Semoga apa yang menjadi impian kita bisa tercapai. Sampai di sini dulu kawan, tunggu aku di cerita berikutnya. Sampai jumpa di lain waktu. Always spirit, smile and positive thinking. You must believe, you can do it. J

SEKIAN

Inspirasiku

My Inspiration
Teruslah semangat membaca dan menulis, karena ke duanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Orang yang rajin membaca akan tetapi tidak menulis seperti halnya orang menanam tetapi tidak dapat menuai hasilnya. Begitupun sebaliknya, orang yang terus menulis dan tidak pernah membaca sama halnya dengan orang yang bisa berjalan tetapi tidak dapat mengetahui arah tujuannya. Ungkapan ini ke dua kalinya aku dengar dari seorang penulis handal yang sekarang juga mengajar dua mata kuliah di kelasku, Dr. Ngainun Na’im. Beliau selalu memberi semangat kepada orang lain untuk selalu membaca dan menulis, sebab dengan melakukan dua hal tersebut seseorang akan lebih maju dan berwawasan luas.
            OPAK Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah adalah kali pertama aku mendapat motivasi dari pak Na’im untuk selalu membaca dan menulis. Dari situ aku mulai sadar dan tahu betapa pentingnya dua hal tersebut karena sejatinya aku bukanlah orang yang senang terhadap pekerjaan itu. Bagiku dua hal tersebut adalah suatu hal yang membosankan, terlebih lagi menulis yang notabennya sebuah momok dalam pikiranku, karena aku merasa sulit merangkai kata dan tidak pernah percaya diri untuk melakukannya. Pertemuan pertamaku di kelas merupakan  kali ke dua aku bertemu beliau, dan lagi-lagi beliau memberi motivasi untuk senantiasa menulis dan membaca. Awalnya aku masih ragu, tapi kali ini aku ingin mencoba dan bisa melakukannya dengan baik.
            Mata kuliah yang beliau  ajarkan kali ini adalah dasar-dasar menulis. Pada matakuliah ini setiap mahasiswa akan diberi sedikit materi dan lebih banyak praktik secara langsung. Selain itu, beliau juga memberi saran kepada aku dan teman-teman untuk senantiasa membaca dan menulis setiap hari meskipun dalam waktu yang tidak lama. Setidaknya juga untuk menambah wawasan dan mengasah otak supaya bisa menjadi manusia yang lebih berguna. Awal kali melakukannya memang sangat sulit, tapi untuk melakukan suatu hal yang baik perlulah dipaksa agar menjadi terbiasa dan merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya. Semangat dalam diri sendiri dan selalu yakin merupakan hal penting yang harus ditanamkan, karena dua hal itu sangat berpengaruh terhadap mental seseorang untuk bisa berkarya dan tidak mudah putus asa jikalau ada halangan yang menghadang.
            Setelah penjelasan beliau selesai, mulailah dibuka sesi pertanyaan. Aku ingin bertanya tentang apa yang menjadi ganjalan di pikiranku sejak dulu, akan tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk itu. Iya, aku memang orang yang sangat tidak percaya diri dan hal ini merupakan salah satu kelemahanku. Kemudian tiga temanku laki-laki bertanya dan pertanyaan itu pula yang menjadi pertanyaan dalam pikiranku selama ini. Bapak Na’im menjawabnya dengan baik dan jelas. Aku pun mulai memahami kalimat demi kalimat yang beliau sampaikan. Hingga akhirnya aku merasa puas dan mencoba membangun secara perlahan kepercayaan dalam diriku. Aku mulai berfikir, kalau orang lain bisa mengapa aku tidak. Mencoba bukanlah hal yang salah, tetapi kesalahan sudah biasa terjadi saat mencoba.
            Awalnya aku merasa tegang sebab belum mengetahui karakter beliau saat mengajar. Akan tetapi seiring berjalannya waktu aku mulai tenang dan menikmati suasana itu. Perlahan aku mulai memahami karakter beliau.  Ketertarikankupun mulai muncul ketika diajar oleh beliau sebab aku mendapat suatu hal baru yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Selain itu, beliau juga orang yang humoris dan menyenangkan. Tetapi dibalik humorisnya, beliau adalah orang yang disiplin dan pekerja keras. Hal itu sudah ditanamkan oleh keluarganya sejak beliau masih kecil, hingga akhirnya menjadi sebuah karakter yang terbentuk dalam dirinya. Oleh sebab itu, tidak heran jikalau sekarang beliau bisa sukses meraih impiannya. Selain ada minat yang kuat, beliau juga selalu yakin dan berusaha keras untuk meraihnya tanpa mengenal putus asa.    
            Aku merasa kagum ketika beliau menjelaskan secara rinci tentang pengalamannya. Sebab sangat jarang sekali ada orang yang mempunyai semangat luar biasa dan tidak mudah menyerah seperti beliau. Beliau patut menjadi inspirasi ataupun panutan  bagi semua orang, terlebih lagi untukku yang masih saja bermalas-malasan, tidak percaya diri dan mudah menyerah. Iya, aku harus mulai melakukan perubahan sedikit demi sedikit untuk diriku sendiri dan kemajuanku. Karena tanpa kesadaran maupun kerja keras hal ituakan sulit diwujudkan. Terima kasih atas motivasinya bapak. Semoga aku selalu terinspirasi dengan perjalananmu untuk meraih impian, di mana hal itu merupakan sebuah pelajaran berharga bagiku. Dukungan dan bimbinganmu kuharap selalu.


SEKIAN